Apakah Membangun Bendungan Menjadi Solusi Penyediaan Air Bagi Petani?

Orang bilang tanah kita tanah surga....Tongkat dan batu jadi tanaman.....Lirik lagu Kolam Susu milik Koes Plus menggambarkan kondisi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Oktober 2015, beras Vietnam sebanyak 4,800 ton masuk ke Manado, Sulawesi Utara. Demi mencegah kenaikan harga beras akibat kegagalan panen, maka beras impor pun masuk. Ketahanan pangan nasional menjadi taruhan ketika kegagalan panen terjadi di daerah lumbung padi nasional. Sungguh ironis ketika dunia mengenal Indonesia sebagai negara agraris.

Demi mengamankan ketahanan pangan nasional maka pemerintahan Jokowi melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA) mengebut pembangunan 16 bendungan dan berencana untuk menambah 49 bendungan lainnya. Pembangunan bendungan diharapkan mampu untuk menyelamatkan lahan - lahan pertanian petani dari kekeringan yang panjang.

Air menjadi urat nadi keberhasilan panen dan kekeringan merupakan mimpi buruk yang terus berlanjut dari tahun ke tahun. Selama tahun 2003 - 2011, tercatat Indonesia mengalami 1,411 kekeringan dengan total kerusakan lahan terjadi pada 1,667,766 Ha lahan pertanian. Tahun 2014, BNPB mengumumkan bahwa kekeringan melanda 86 kabupaten/kota di 20 propinsi. 18 kabupaten diantaranya berada di Jawa Tengah dan menjadikannya sebagai propinsi dengan jumlah kabupaten yang paling banyak mengalami . Kekeringan di Jawa dan Nusa Tenggara telah menjadi siklus tahunan dan semakin parah dari tahun ke tahun.

Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sejak tahun 2003 telah mengalami defisit air (lihat tabel 1). Namun dengan semakin berubahnya tata guna lahan, pertumbuhan penduduk, dan pembangunan, bukan tidak mungkin bahwa pulau - pulau lainnya juga mengalami defisit air di musim kemarau. Melihat besarnya ketersediaan air di musim penghujan, maka membangun bendungan adalah solusi yang terlihat paling memungkinkan untuk menyimpan kelebihan air untuk kemudian didistribusikan ketika kemarau datang, utamanya untuk pertanian. Tapi benarkahbendungan menjadi solusinya? Mari kita lihat seberapa besar pengaruh bendungan sebagai sumber irigasi pertanian kita.

Tabel 1. Neraca Air tahun 2003.
Islands
Ketersediaan Air 
(Juta M3)
Permintaan Air 
(Juta M3)
Musim Hujan
Musim Kemarau
Musim Hujan
Musim Kemarau
Sumatera
384.774
93.197
8.319
11.647
Jawa dan Bali
101.161
25.290
27.433
38.406
Nusa Tenggara
37.940
4.216
1.440
4.320
Kalimantan
389.689
167.010
2.041
2.857
Sulawesi
129.400
14.378
6.433
9.007
Papua
381.764
163.613
57.2
80

Pada tahun 2010, total area pertanian yang terdapat dalam sistem irigasi Indonesia berjumlah 7,469,796 Ha atau 33,210 sistem yang dikelola oleh pemerintah dimana 2,851,006 Ha (241 sistem) yang dikelola pusat, 1,423,222 Ha (1,109 sistem) dikelola provinsi , dan 3,195,568 Ha (31,860 sistem) dikelola oleh kabupaten/kota.  Pertanian irigasi memeliki peranan penting karena area irigasi menghasilkan 85% produksi beras nasional dan manusia Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok (rata - rata 139.15 kg/kapita/tahun). 40% area irigasi berada di Jawa dengan produktivitas yang lebih tinggi 1.2-2 kali lipat dibanding dengan pulau lainnya dan ditinggali oleh lebih dari 60% total populasi. Berdasarkan data BPS tahun 2010, Indonesia memiliki 9.45 juta Ha sawah.

Tabel 2. Sawah irigasi tahun 2010
Sawah (Ha)
Produksi Beras (Ton)
Jumlah Sawah
9,456,929
66,809,828
Sawah irigasi
7,230,183
84.48%
Sawah pasang surut dataran rendah
488,852
3.37%
Sawah dataran rendah
171,994
1.18%
Sawah irigasi dengan sumber air tanah
92,090
1.01%
Lainnya, seperti sawah tadah hujan, sawah tradisional, dsb
1,473,810
9.95%

 Berdasarkan laporan Kemen PUPERA tahun 2012, sumber air untuk sawah irigasi berasal dari bendungan dan aliran permukaan sungai, dengan rincian 6,432,212 Ha sawah (89%) bergantung pada aliran permukaan sungai dan 797,971 Ha (11%) pada bendungan

Ada kurang lebih 5,886 sungai besar/utama yang digunakan sebagai sumber irigasi. Debit air sugai sangat bergantung pada cadangan/suplai air sungai selama musim penghujan. Faktanya, Kondisi 64 daerah aliran sungai (DAS)  sangat kritis dengan total area 2.7 juta Ha mempengaruhi debit air sungai yang menyokong 89% irigasi nasional.

Rusaknya DAS menjadi penyebab utama sedimentasi yang terjadi pada bendungan di Indonesia. Berbicara berkurangnya/ hilangnya kemampuan menjerap tanah oleh DAS menyebabkan laju erosi tinggi dan berujung pada sedimentasi. Sedimentasi bendungan di Indonesia dikategorikan cukup tinggi dengan kisaran 1 - 13 juta m3 dengan efisiensi tangkapan sedimen berkisar antara 23.02-99.22%. Sedimentasi mengurangi volume tangkapan bendungan hingga 1.28% tiap tahunnya.

Dampak sedimentasi dapat dilihat pada Bendungan Sengguruh. Wilayah Sungai (WS) Brantas memberikan gambaran bagaimana tata guna lahan mempengaruhi kecepatan erosi dan sedimentasi pada Sengguruh. Sengguruh dibangun dengan kapasitas penyimpanan 7.6 juta ton dan desain untuk menangkap sedimen yang mengalir ke Bendungan Sutami yang berlokasi di daerah hilir. WS Lesti dan Amprong memproduksi sedimen yang berkontribusi terhadap pendangkalan Sengguruh. Diperkirakan kecepatan erosi dari lahan pertanian dari kedua WS (Amprong dan Lesti) adalah 0.4 ton/Ha/tahun dan 11.1 ton/Ha/tahun. Sedimentasi yang berasal dari lahan pertanian merupakan salah satu sumber utama sedimentasi Sengguruh. Akibat meningkatnya kecepatan erosi, masa hidup Sengguruh berkurang dari 20 tahun menjadi 12 tahun  selama tahun 1988 - 2000. Bila dihitung - hitung, menyusutnya volume air akibat sedimentasi pada 284 bendungan besar di Indonesia telah mencapai 12.4 milyar m3 yang jika diuangkan senilai dengan US$ 84 juta/tahun.

Harus diingat bahwa 89% irigasi berasal dari aliran sungai bukan bendungan. Untuk mendorong swasembada pangan/beras dan menjaga ketahanan pangan, akan lebih baik bila pemerintah memfokuskan dalam perbaikan daerah aliran sungai (DAS) dibandingkan dengan membangun bendungan.

Selain itu, permasalahan ketersediaan air juga terkait dengan alokasi air. Bila alokasi air harusnya diutamakan untuk urusan pertanian dan pemenuhan kebutuhan sehari - hari. Pada kenyataannya, seringkali pembagian air lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan industri. Ambil contoh, petani di Desa Bakung Pringgodani, Singkalan, dan Bogem Pinggir. Mereka harus menerima air sisa dari industri yang sudah bercampur dengan limbah industri. Hal ini menyebabkan penurunan hasil panen secara drastis.


DAFTAR PUSTAKA

Milliman, J.D. 2001. River Inputs. Academic Press. Doi:10.1006/rwos.2001.0074

Agus, F., Wahyunto, S. H. Tala’ohu, and R. L. Watung. 2004. Environmental Consequences of Land Use Changes in Indonesia. ISCO 2004-13th International Conservation Organisation Conference: Conserving Soil and Water for Society: Sharing Solutions.

Uchida, T, F. Takahashi, Y. Onda, D. Sisingghi, H. Kato, T. Noro, and N. Ossanai. 2009. Estimating Soil Erosion Rate and Sediment Sources Using Radionuclide Pb-210ex in Upper Brantas River Basin in Indonesia. https://www.jstage.jst.go.jp/article/jjshwr/22/3/22_3_188/_pdf

Buschman, F. A, A. J. F. Hoitink, S. M. de Jong, P. Hoekstra, H. Hidayat, and M. G. Sassi. 2012. Suspended Sediment Load in The Tidal Zone of an Indonesia River. Hydrol. Earth Syst. Sci., 16, 4191-4204

Ministry of Agriculture. 2013. Water Management and Sustainable Agriculture in Indonesia. Presented in special seminar on Food Security Focusing on Water Management in Sustainable Agriculture.
Arif, S.S., and Murtiningrum. Challenges and Future Needs for Irrigation Management in Indonesia. http://www.oecd.org/tad/sustainable-agriculture/49202003.pdf 

Nuchsin, P. 2015. Irrigation Management to Increase Agriculture Production. Ministry of Agriculture. The First Meeting of The COMCEC AGRICULTURE WORKING GROUP.

Shean, Michael. 2012. Indonesia: Stagnating Rice Production Ensures Continued Needs for Import.  http://www.pecad.fas.usda.gov/highlights/2012/03/Indonesia_rice_Mar2012/

Muslihah, Eni. 2015. Water Deficit Irrigation Areas. http://ekuatorial.com/forests/daerah-irigasi-defisit-air#!/story=post-10698

Hidayat, M. A, and D. A. Pitaloka. 2015. Government-owned Drinking Water Enterprise (PDAM) Project is Being Accused as Irrigation Root Problems in Malang. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/597654-proyek-pdam-dituding-biang-masalah-irigasi-di-malang



Komentar

Postingan Populer