Antara Aku, Kamu, Petani dan Pestisida

Tulisan kali ini merupakan kelanjutan dari obrolan sebelumnya tentang pestisda dan hama. Sekarang ngobrol yuk tentang pestisida dan kesehatan. Dua (2) minggu yang lalu, kami mengadakan lomba kreasi makanan berbahan dasar sumber pangan lokal. Sewaktu membantu mengisi daftar peserta lomba, saya berkenalan dengan ibu di sebelah saya (sambil makan rujak buah yang dibawa si ibu), kami mengobrol ngalor ngidul. Dari obrolan itu, saya mengetahui inovasi petani - petani bayam di desa si Ibu (Desa Pedagangan, Gresik). Inovasi untuk mengendalikan serangan hama seperti kepik berwarna putih pada bayam, pakailah losion anti nyamuk 1 sachet dan dicampur air (ukurannya lupa) maka serangga pun hilang. Eheem, bukan inovasi yang positif menurut saya. Tetapi kejadian macam ini bukanlah hal baru. Teman pernah bercerita bahwa petani apel Pujon, mencampur 2 - 3 jenis pestisida dan masih ditambah deterjen, dan voila - ramuan ajaib bin beracun sudah siap. 

Berbicara angka, kebutuhan Indonesia akan pestisida terus meroket sebagai akibat dari perubahan kebijakan yang terjadi ketika masa reformasi. FAO menghitung, bahwa antara tahun 1990 - 2012, impor insektisida kita meningkat dari USD 1.19 juta menjadi USD 70.5 juta. Oke, seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa pestisida bersifat persisten, cenderung terakumulasi dalam tanah/sedimen dan organisme, dan beracun bagi manusia dan hewan (mutagenik, carcinogenik dll). Pemakaian pestisida akan menyebabkan timbunan  residu. Mengapa, karena mayoritas pestisida akan mengendap/ tertumpuk di lingkungan dibandingkan menempel pada tanaman. Contohnya, pemakaian parathion dengan ukuran 15 mg/cm2 . Kurang dari 1% (0.1 mg/cm2) yang menempel pada daun langsung setelah penyemprotan [i]

Petani kita memiliki inovasi yang tidak biasa, seperti yang sebelumnya sudah diceritakan. Petani-petani di negara berkembang (termasuk Indonesia) menggunakan campuran 3 - 5 pestisida dalam sekali penyemprotan [ii], dan yang perlu dicatat bahwa satu pestisida memiliki waktu paruh (waktu yang dibutuhkan untuk mendegradasi 1/2 konsentrasi senyawa) adalah 90 hari [iii]. Banyak penelitian yang menunjukkan cara atau jumlah pestisida yang digunakan oleh petani. Salah satu yang hasil penelitiannya cukup ngeri adalah penggunaan pestisida oleh petani Karawang tahun 1998. Petani menggunakan 13 jenis pestisida yang berbeda dalam 1 kali masa tanam padi. Setiap pestisida memiliki bahan kimia aktif. Menjadi masalah ketika 6 dari 13 jenis pestisida yang digunakan (seperti chlorpyrifos, diazinon) dilarang untuk digunakan untuk bertanam padi. Coba cek peraturan paling gress terkait pestisida yang dilarang digunakan PerMenTan No 39/Permentan/SR.330/7/2015. 

Begitu pestisida disemprotkan, doi akan menyebar ke udara, menempel pada tanah, mencemari air dan ujung -ujungnya akan tertimbun dalam jaringan tubuh predator tertinggi dan itu kita, manusia. Salah satu contoh kasus yang cucok adalah Citarum. Hutan alami Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum perlahan berubah menjadi lahan pertanian, dengan tanaman utama seperti wortel, kubis, dan cabe merah. Petani menggunakan sekitar 42 merek pestisida dengan 3 jenis bahan kimia aktif: organofosfat, organoklorin, dan karbamat [iv]. Pestisida yang tercuci dan mencemari sungai. Sayangnya sungai-sungai ini dipakai sebagai sumber air bersih untuk kolam ikan, bahan baku industri, PDAM. Nah, penelitian terakhir menunjukkan bahwa pestisida (lindan, aldrin, heptaklor, dieldrin, DDT, dan endosulfan) terdeteksi terdapat pada daging ikan lele yang dipelihara di kolam yang mendapat aliran Citarum. Konsentrasi dari pestisida yang terdeteksi berkisar antara 25-117 ng/gr berat basah[v] yang dinyatakan aman untuk konsumsi. Tapi harus diingat bahwa sifat dari pestisida adalah terakumulasi/ tertimbun di dalam tubuh.

Selain terdeteksi dalam air, residu/ sisa pestisida juga dapat dengan mudah ditemui pada sawi hijau, kubis [vi], melon [vii], dan teh. Untuk teh, residu pestisida yang terdeteksi melewati bats maksimum adalah fenvalerate, cypermethrin, dan β-cyfluthrin[viii]. Hasil produk (susu, daging, hati, dan lemak) dari sapi juga tidak terlepas dari kontaminasi pestisida organofosfat dan organoklorin. Sumber pestisida berasal dari pakan sapi, seperti rumput gajah, jagung, atau lainnya [ix]

Oke, bukti apa yang saya punya untuk membuktikan kalau pestisida sudah mengacau lingkungan kita? Penelitian yang dilakukan oleh Kusrini pada tahun 2005 secara tidak sengaja menunjukkan kekacauan yang sudah terjadi pada alam akibat penggunaan pestisida. Pada penelitaannya dia menemukan bahwa 4-15% populasi katak konsumsi yang hidup di sawah dan sungai mengalami kecacatan fisik seperti brachydactyly, ectrodactyly, dan syndactyly[x]

Siapa (manusia) yang terdampak terlebih dahulu? Tebakanmu tepat, Bapak/Ibu Petani. Kurang informasi atau cenderung meremehkan, saya kurang tahu. Tetapi perilaku petani yang tidak menggunakan pakaian dan peralatan yang memadai menyebabkan mereka mudah keracunan pestisida. Akibat penggunaan ketidaklengkapan perlengkapan penyemprotan, seperti memakai celana pendek sandal, tanpa masker, dan atau baju berlengan pendek. Belum lagi perilaku mereka ketika melakukan penyemprotan, contoh: menyemprot melawan angin, meniup pipa penyemprotan dengan mulut, menentuh mulut selama penyemeprotan dan makan/minum/ merokok selama penyemprotan memperparah/ meningkatkan potensi petani terkontaminasi dan keracunan pestisida pestisida. Ketika terkontaminasi pestisida, petani mengalami penurnan tingkat kolinesterase. Pestisida mengikat kolinesterase sehingga menghambat kecepatan pengiriman stimulus ke saraf dan menyebabkan penyakit neurodegeneratif [xi]. Adapun tanda-tanda keracunan pestisida seperti gemetaran, diare, pusing, dan muntah. Karena tanda-tanda keracunan pestisida yang seperti ini, dokter atau tenaga medis lainnya salah melakukan diagnosa. Hal yang sama juga dilakukan oleh petani, untuk mengatasi hal ini 
mereka biasanya pergi ke warung untuk membeli obat pusing atau beristirahat. Bukan keputusan yang tepat, karena sifat pestisida yang merupakan racun syaraf, menyebabkan kanker (karsinogenik) dan gangguan hormon serta reproduksi. Terkait pestisida sebagai agen kanker, Dinkes Propinsi Lampung mencatat adanya insidensi kanker diantara petani dan pekerja perkebunan di Kabupaten Mesuji [xviii].

Dibanding laki - laki, perempuan dan anak - anak lebih rentan terhadap keracunan pestisida. Jalur utama keracunan pestisida pada wanita adalah saat menyiapkan pestisida, menyemprot, membersihkan tabung penyemprot, mencuci pakaian untuk menyemprot dan memanen. Kasus petani perempuan yang bekerja di ladang bawang merah memiliki konsentrasi timbal (Pb) yang notabene adalah logam berat dan bersifat mutagenik dan karsinogenik, yang lebih tinggi dalam darah (> 23.86 ug/mL)[xiv]. sedangkan pada anak-anak, jalurnya adalah melalui orangtua. Berdasarkan laporan PANAP salah satunya adalah kebiasaan menggunakan botol pestisida menjadi mainan [xv].

Ectrodactyly pada manusia


Dampak keracunan pestisida dalam jangka panjang pada wanita beragam. Penelitian seorang dokter pada petani perempuan yang bekerja di ladang bawang merah (Brebes) mengalami keguguran selama tahun 2000 - 2009 adalah sebanyak 34% dari 600 responden. Bahkan beberapa dari mereka mengalami keguguran hingga lima kali secara berturut-turut. Resiko keguguran meningkat 3 kali lipat untuk wanita yang bekerja di ladang [xvi]. Dampak pestisida tidak hanya berhenti pada kesehatan orangtua tetapi juga akan terus berlanjut pada si anak. Penelitian yang dilakukan oleh Bangun et al., (2014) menunjukkan adanya hubungan positif antara paparan pestisida dengan resiko leukimia pada anak. Kontaminasi pestisida diturunkan dari orangtua ke anak [xvii]

Pestisida ada di sekitar kita, jadi apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak pestisida:

  • Mencuci sayur atau buah dengan air mengalir 
  • Mengupas sebisa mungkin buah yang kita konsumsi
  • Membuang lapisan terluar sayuran yang kita konsumsi, seperti kubis
  • Sebisa mungkin belilah produk organik. Kalau produk organik mahal, cobalah menumbuhkan sayur/ buah di pekarangan, tentunya secara organik pula. Mengapa? Membersihkan residu pestisida dengan hanya akan menghilangkan residu luar. Pada buah/sayur yang disemprot dengan pestisida yang bersifat larut air, doi akan meresap masuk hingga ke dalam tanaman yang tidak bisa hilangkan dengan cara dicuci.

Jadi, selamat menikmati makanan yang tersedia dan tetaplah sehat..





[i] Linde, C. D. 1994. Physico-Chemical Properties and Environmental Fate of Pesticides. Environmental Protection Agency. State of California.
[ii] Gupta, Abhik. 2012. Pesticide Use in South and South-East Asia: Environmental Public Health and Legal Concern. American Journal of Environmental Sciences, 8(2), 152 – 157.
[iii] Field, J. A. 2015. Pesticide Application Training Course. Environmental Fate of Pesticide. Oregon State University.
[iv] Parikesit, H. Salim, E. Triharyanto, B. Gunawa, Sunardi, O. S. Abdoellah,  and R. Ohtsuka. 2005. Multi-Source Water Pollution in the Upper Citarum Watershed, Indonesia, with Special Reference to Its Spatiotemporal Variation. Environmental Sciences, 12(3), 121-131
[v] Rahmawati, ., G. Margana, M. Yoneda, and K. Oginawati. 2012. Organochlorine Pesticide Residue in Catfish (Clarias sp) Collected from Local Fish Cultivation at Citarum Watershed, West Java Province, Indonesia. Procedia Environmental Sciences, 17(3), 3 – 10
[vi] Elvira, V. F., A. Daud, and M. Selomo. 2014. Identification of Malathion Pesticides Rsidues in Mustard Greens (Brassica Juncea. L) at Pannampu Market and Lotte Mart Makassar City. Hasanuddin University. Makassar.
[vii] Hartini, Eko. 2014. Contamination of Pesticide Residue in Melon: Case Study of Farmer at Penawangan Subdistrict. KEMAS, 10(1), 96 – 102
[viii] Rayati, D. J., W. Widayat, and A. M. Sabur. 2003. Pesticide Residue in Tea: Problems, Research Results, and Strategy to Minimize It. National Tea Symposium Proceeding, 71 – 86.
[ix] Indraningsih, and Y. Sani. 2004.  Pesticide Residues in Animal Products: Problems and Its Alternative Prevention. WARTAZOA, 14(1)
[x] Kusrini, M. D. 2005. Edible Frog Harvesting in Indonesia: Evaluating Its Impact and Ecological Context. Thesis. James Cook University
[xi] Public Health. 2015. Cholinesterase and Mechanism of Pesticide Poisoning. http://www.indonesian-publichealth.com/2014/04/cholinestrase-dan-keracunan-pestisida.html
[xii] Afriyanto. 2008. Study of Pesticide Poisoning on Chili Sprayed Farmer at Candi village, Bandungan subdistrict, Semarang regency. Thesis. Diponegoro University.
[xiii] Murphy, H.H., R. Dilts, M. Djajadisastra, N. Hirschhorn, and S. Yuliantiningsih. 1999. Health Effects of Pesticide Use Among Indonesian Women Farmers: Part 1. Exposure and Acute Health Effects. Journal of Agromedicine, 6(3), 61 – 85.
[xiv] Hartini, Eko. 2010. Lead (Pb) Concentration in Fertile Women Blood at Farming Area. VISIKES Journal, 9(2), 70 – 80.
[xv] Purwati, A. 2010. PANAP Research: Pesticide Disturb Farmers Health. http://beritabumi.or.id/penelitian-panap-pestisida-ganggu-kesehatan-petani/
[xvi]Hastano, J. D. 2010. 204 from 600 Women Who Work as Onion Farmer Experienced Miscarriage. http://www.yiela.com/view/1033393/204-dari-600-petani-bawang-perempuan-keguguran


[xvii] Bangun, P. K., B. Lubis, S. Sofyani, N. Rosdiana, and  O. R. Siregar. 2014. Risk Factors of Childhood Leukimia. Paediatrica Indonesiana, 54(6), 359 – 364.
[xviii] Kompas. 2013. Mesuji Farmer Diagnosed Cancer Caused by  Pesticide Application. http://regional.kompas.com/read/2013/06/03/21250414/Petani.di.Mesuji.Terserang.Kanker.Akibat.Pestisida

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer